Kriminalitas

Poksektro Serpong Selidiki Perampokan di Taksi

Kompas.com - 12/10/2011, 11:04 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com — Kepolisian Sektor Metro Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, masih melakukan penyelidikan terhadap kejadian perampokan di dalam taksi.

"Kami sedang melakukan penyelidikan terhadap kejadian ini. Sebab, ini merupakan kejadian pertama kali dalam taksi," kata Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsektro Serpong Iptu Nugraha saat dihubungi, Rabu (12/10/2011).

Pernyataan Iptu Nugraha terkait perampokan yang dialami Fitri, warga Perum GSA, Kelurahan Suradita, Cisauk, Kabupaten Tangerang, sekitar pukul 23.00 WIB pada hari Minggu (9/10/2011) di dalam taksi. Akibatnya, Fitri kehilangan harta berharga berupa uang tunai, dua telepon genggam, kalung emas, gelang, dan anting dengan total kerugian mencapai Rp 20 juta.

Nugraha mengatakan, dalam penyelidikan kasus ini kuat dugaan sopir taksi tersebut bekerja sama dengan kawanan perampok.

Nugraha mengatakan, korban saat itu menaiki taksi "IF" yang sedang mencari penumpang. Saat dicek, ternyata pool taksi tersebut berada di daerah Bekasi.

Karena itu, kepolisian pun langsung melakukan penyelidikan dengan mengecek pool taksi yang ditumpangi oleh korban ke daerah Bekasi.

"Kami masih melakukan penyelidikan dengan mengecek pool taksi yang ditumpangi korban. Mudah-mudahan korban masih mengingat mobil taksi yang ditumpanginya saat itu," katanya.

Perampokan berawal saat dirinya baru pulang dari kantor, kemudian memberhentikan taksi di Jalan Raya Pahlawan Seribu, Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangsel.

Fitri menumpang taksi "IF" yang saat itu sedang mengetem dan tanpa curiga Fitri meminta sopir untuk mengantarkannya.

Fitri kemudian duduk di belakang sopir. Sekitar 15 menit taksi melaju, tiba-tiba tiga orang tidak dikenal masuk ke dalam taksi yang ditumpanginya.

Dua orang mengapit korban di belakang dengan pisau, sedangkan satu orang lainnya mengambil barang-barang milik korban. Sopir taksi kemudian membawa korban berputar-putar di daerah Serpong. Perampok meminta korban untuk menyerahkan uang dan perhiasan yang dipakai korban.

"Saya kaget, setelah taksi yang saya tumpangi melaju kurang lebih jarak 50 meter, ada tiga orang pemuda tiba-tiba masuk. Saat itu saya tidak bisa teriak dikarenakan seorang perampok mengapit pisau ke tubuh saya, sementara yang lain memegang tangan saya," kata Fitri saat memberikan keterangan di kepolisian.

Semula Fitri mencoba melawan dan memaksa turun, tetapi laju kendaraan semakin cepat. Sang sopir taksi tak menghiraukan dan terus menambah laju taksi. Merasa jiwanya terancam, karyawati swasta itu kemudian menyerahkan uang tunai dan perhiasan yang dipakainya.

Selain itu, perampok juga meminta nomor PIN ATM BCA milik korban. Kawanan perampok kemudian mengambil uang di mesin ATM BCA di daerah Rawa Buntu, Serpong, Tangsel.

Di sana pelaku menguras uang sebesar Rp 10 juta. Selesai beraksi, perampok menurunkan korban di depan Perumahan Delatinos, BSD, Tangsel. Korban pun langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Serpong, Tangsel.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau